"Tadi saya masih belum bisa mengatasi angin di lapangan. Di gim pertama saya tertekan terus karena ‘kalah’ angin. Saya sudah coba keluar dari tekanan, tetapi susah juga, ada rasa penyesalan, kenapa permainan saya tidak keluar," kata pemain asal AIC Bekasi ini melalui siaran pers Humas PP PBSI.
"Di gim kedua, saya sudah mencoba pola main lain, Alhamdulillah sudah lumayan enak. Tapi skornya sudah ketinggalan terlalu jauh," Yusuf, menambahkan.
Ia juga mengaku grogi bermain di turnamen bulu tangkis level BWF World Tour Super 500, terlebih bertanding di arena pertandingan yang terkenal dengan atmosfer yang luar biasa. Yusuf merupakan penghuni baru pelatnas PP PBSI yang baru masuk pada Juni 2025 melalui lewat jalur Seleksi Nasional.
Belum setahun berstatus pemain nasional dan punya kesempatan bertarung di Istora, di turnamen level dunia, merupakan sebuah kesempatan yang tak ingin disia-siakan oleh Yusuf. Namun, ia sadar banyak yang masih perlu diperbaiki. "Tadi sebetulnya suara pelatih sering tidak terdengar, karena suasana Istora yang ramai. Saya pertama kali tanding di Istora dan di turnamen level Super 500, jadi jujur saja saya merasa grogi, hari ini penontonnya lebih ramai dari kemarin," kata atlet muda yang lolos ke babak utama dengan mengalahkan seniornya, Yohanes Saut Marcellyno.
"Pelatih tadi ngingetin untuk fokus saja, nggak usah mikirin kalah atau menang, kalah juga nggak apa-apa. Soalnya level saya masih belum di sini kan, jadi coba nikmati pertandingannya," Yusuf, menjelaskan.
Performa Yusuf cukup baik pada 2025. Ia mengantongi dua gelar juara di Astana International Challenge 2025 dan Czech Open 2025 (International Challenge). Yusuf juga menjadi runner-up di Odisha Masters 2025 (BWF Tour Super 100) dan Turkiye International Challenge 2025. Kini ia menempati peringkat ke-52 dunia dan berharap bisa menembus jajaran 20 besar dunia pada akhir tahun ini.



