Kemenangan dalam pertandingan yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta tersebut, sekaligus mengubah keunggulan rekor pertemuan menjadi milik Raymond/Joaquin. Setelah berbagi satu kemenangan dalam dua pertemuan pertama, pasangan muda "Merah Putih" itu kini unggul 2-1 atas Sabar/Reza dalam catatan head-to-head. "Pertama-tama mau terima kasih dulu buat para 'Badminton Lovers' yang sudah rela nungguin kami sampai malam, sampai jam 11 malam cuma buat nonton kami main," kata Joaquin melalui siaran pers Humas PP PBSI.
Sejak gim pertama, Raymond/Joaquin langsung tancap gas, mereka unggul jauh hingga 10-4 dan tidak memberikan kesempatan bagi Sabar/Reza untuk mengejar. Dengan permainan no lob cepat, Raymond/Joaquin berhasil amankan gim pertama.
Di awal gim kedua, Sabar/Reza sempat memimpin perolehan skor 6-2. Kedua pasangan terus saling berkejaran angka, kedudukan sempat imbang sampai 16-16. Akan tetapi, kecepatan permainan yang menjadi andalan Raymond/Joaquin, lagi-lagi begitu merepotkan Sabar/Reza. "Tadi pertandingannya menurut saya luar biasa bisa melawan Mas Reza dan A Iboy. Di gim kedua poinnya memang cukup ketat, sampai 16 sama, tapi saya terus yakini diri saya kalau ini kesempatan, kapan lagi kan kesempatan mungkin enggak datang dua kali. Jadi saya terus yakin sama diri sendiri kalau saya itu bisa, dan Puji Tuhan bisa menang," ujar Joaquin.
"Mereka juga punya kualitas pemain dunia, peringkatnya juga lumayan tinggi, pengalaman sama jam terbangnya sudah lumayan banyak. Nggak mudah melawan mereka," Joaquin, menambahkan soal Sabar/Reza.
Laga final ini merupakan laga Super 1000 pertama bagi Raymond/Joaquin. Di partai puncak pada Minggu (7/6), ganda putra Malaysia, Nur Izzuddin/Goh Sze Fei, sudah menanti. Pasangan negeri jiran berperingkat ke-8 dunia itu lolos ke final setelah mengallahkan wakil Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae.


