"Hasil ini sangat luar biasa. Terakhir kali di All England, saya gagal di semifinal. Jadi kali ini, saya sangat senang bisa mencapai final di tempat yang legendaris ini," tanggap Lai kepada wartawan seusai pertandingan.
Lai, yang untuk pertama kalinya merasakan atmosfer pertandingan di Istora, mengaku mendapat dukungan yang tidak diduganya dari para penonton. Mulanya, ia merasa seperti menghadapi pemain tuan rumah karena Chou dikenal sebagai salah satu "Istora Boy. Namun, seiring jalannya laga yang berlangsung sengit, Lai mulai merasakan dukungan dari sebagian penonton yang memberinya tambahan semangat hingga mengunci kemenangan. "Suasananya sangat ramai," katanya.
Setelah memastikan kemenangan lewat poin terakhir, Lai meluapkan kegembiraannya dengan mengangkat kedua tangan ke udara sambil mengajak penonton yang memadati Istora untuk bersorak lebih keras. Selebrasi tersebut menjadi ungkapan kebahagiaan Lai setelah meraih kemenangan pertamanya atas Chou dalam dua pertemuan terakhir mereka.
Lai mengakui, faktor keberuntungan turut berpihak kepadanya pada momen-momen krusial di gim penentuan. Sejumlah poin penting ia raih pada saat yang tepat, yang pada akhirnya mengantarkannya mengamankan kemenangan sekaligus memastikan satu tempat di partai puncak. "Sedikit beruntung. Dia mengejar ketertinggalan enam poin berturut-turut. Dan kemudian dia melakukan kesalahan di momen krusial. Jadi, saya merasa sangat beruntung," tuturnya.
Pada final yang berlangsung Minggu (7/6), Lai akan menghadapi tunggal putra andalan tuan rumah, Jonatan Christie. Pertandingan tersebut akan menjadi pertemuan pertama bagi kedua pemain.


