Pada usia 36 tahun 200 hari, Chou mengukir sejarah sebagai pemain tertua yang menjuarai turnamen BWF World Tour Super 1000. Ia memastikan gelar juara China Open 2026 setelah mengalahkan Popov melalui rubber game 21-15, 7-21, 21-13, pada partai puncak yang berlangsung di Olympic Sports Center Gymnasium, Changzhou, Minggu (26/7).
Gelar juara tersebut menjadi puncak dari salah satu penampilan terbaik dalam karier panjang Chou. Dalam perjalanannya menuju podium juara, ia lebih dulu menyingkirkan unggulan pertama sekaligus juara bertahan asal China, Shi Yu Qi, serta juara All England 2026 sesama wakil Taiwan, Lin Chun-Yi. Rangkaian kemenangan itu menegaskan bahwa Chou masih mampu bersaing di level tertinggi, meski usianya tak lagi muda.
Pertandingan final pun mencerminkan karakter permainan yang telah lama melekat pada Chou. Setelah bangkit merebut gim pertama, ia kehilangan momentum pada gim kedua akibat tekanan agresif Popov. Namun, pada gim penentuan, Chou kembali menunjukkan ketenangan dan kematangan dengan melesat unggul hingga tujuh poin, kemudian menjaga keunggulan tersebut dan mengunci kemenangan sekaligus membawa pulang gelar juara.
Bagi Chou, yang menjalani operasi kolektomi setelah didiagnosis menderita kanker kolorektal stadium awal pada 2023, sekadar kembali bersaing di level tertinggi dunia sempat menjadi sesuatu yang tidak pasti. Karena itu, keberhasilannya merebut gelar juara pertama sejak Arctic Open pada Oktober tahun lalu, sekaligus gelar BWF World Tour Super 1000 pertamanya sejak menjuarai Indonesia Open 2019, menjadi pencapaian yang terasa semakin istimewa. "Luar biasa," ujarnya, sebagaimana dilaporkan laman Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Senin (27/7).
"Saya tidak menyangka akan tampil di final, apalagi menjadi juara. Saya sangat menghargainya. Bertanding di lapangan pada usia seperti ini tidaklah mudah,, saya bersyukur mendapatkan kesempatan ini," Chou, menambahkan.
Chou juga mengaitkan keberhasilannya dengan rutinitas yang dijalani setiap hari untuk menjaga kondisi fisik sekaligus memperpanjang kariernya di level tertinggi. Menurutnya, disiplin menjalani fisioterapi, mengatur asupan nutrisi, dan melakukan berbagai program pemulihan, menjadi fondasi utama yang membuatnya tetap mampu bersaing dengan para pemain yang jauh lebih muda.
Bagi Chou, keberhasilan tersebut bukan sekadar kemenangan di lapangan, tetapi juga kemenangan atas waktu. Di tengah persaingan yang semakin ketat, ia mampu mempertahankan konsistensi dan daya saing selama hampir dua dekade. Menurutnya, rahasia di balik perjalanan panjang itu bukan semata-mata bakat atau deretan gelar, melainkan komitmen untuk terus merawat tubuh dan menjalani setiap proses dengan disiplin.
"Anda harus senantiasa menjaga pikiran tetap positif. Saya tidak bisa menentukan hasil akhir, tetapi saya bisa menentukan sikap saya. Jadi, saya terus mempertahankan pola pikir tersebut," kata Chou.
Waktu Chou untuk merayakan keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama, lantaran dalam beberapa hari ke depan ia akan kembali bertanding sebagai unggulan pertama di Taipei Open 2026. Pada usia 36 tahun, ia kembali menegaskan bahwa dirinya belum menunjukkan tanda-tanda melambat dan masih siap bersaing di level tertinggi dunia.



