Demikian digambarkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) melalui laman resminya, Rabu (29/4), terkait momen seusai pertandingan antara Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan Lin Hsiang Ti yang berakhir 10-21, 29-30 dalam 66 menit. Saat kedudukan kedua tim imbang 1-1, laga tersebut berlangsung penuh ketegangan dengan selisih poin tipis hampir sepanjang pertandingan.
Pada skor 29-29, Dhinda melepaskan pukulan tinggi yang dinyatakan keluar dan challenge yang diajukannya tidak berhasil. Namun, di tengah situasi tersebut, ketika Lin berbalik menuju timnya untuk merayakan kemenangan, Dhinda justru menghampiri lawannya dan memberikan pelukan hangat.
Pada momen tersebut, batas antara pemenang dan yang kalah seakan sirna, menyisakan dua pemain muda yang saling menghargai pengalaman intens yang mereka lalui bersama. "Skor 30-29 sendiri bukan hal yang mustahil dalam bulu tangkis," tetapi tergolong jarang terjadi," tulis BWF.
"Saya memang sedih karena kalah, tetapi tetap senang bisa bermain maksimal. Kejuaraan ini penting, namun momen saling menghargai juga berarti, apalagi dia mengatakan saya pemain yang kuat dan masih sangat muda," ujar Dhinda.
Ketangguhan Dhinda tercermin pada rekan-rekan setimnya yang bermain setelahnya, dengan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum dan Ester Nurumi Tri Wardoyo sama-sama berjuang keras setelah kalah di gim pembuka. Ester dapat mengatasi permainan menyerang Huang Yu-Hsun untuk memenangkan pertandingan melalui tiga gim 15-21, 21-19, 21-12. Keakraban antarpemain tetap terjaga meski pertandingan berlangsung ketat, tercermin dari sikap Huang yang tetap tersenyum meski kalah. "Dia teman saya," kata Huang.
"Kami sudah beberapa kali bertemu di lapangan, tetapi sudah lebih dari setahun tidak bertemu, jadi tadi kami saling menanyakan kabar," pungkasnya.



