Pertemuan ini dipimpin oleh Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Daerah PP PBSI, Eskar Denatara, yang menekankan pentingnya keselarasan program pembinaan prestasi di seluruh daerah sebagai fondasi penguatan sistem pembinaan bulutangkis nasional.
Menurut Eskar, komunikasi dan koordinasi yang baik antara PP PBSI dan Pengprov menjadi kunci untuk memastikan setiap program pembinaan berjalan efektif, terarah, serta memiliki tujuan yang sama dalam membangun prestasi bulutangkis Indonesia.
Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah melakukan sinkronisasi program kerja Binpres Daerah PP PBSI dengan program kerja Binpres Pengprov PBSI di seluruh Indonesia. Melalui sinkronisasi ini diharapkan setiap daerah dapat menjalankan program pembinaan yang selaras dengan arah kebijakan pembinaan nasional, sekaligus tetap memberikan ruang bagi daerah untuk mengembangkan potensi dan karakteristik pembinaan masing-masing.
Selain pembahasan mengenai sinkronisasi program kerja, PP PBSI juga menghimbau seluruh Pengprov PBSI untuk mengoptimalkan pengelolaan dan penginputan data pembinaan melalui Sistem Informasi PBSI. Data yang lengkap dan akurat dinilai sangat penting untuk mendukung proses pemetaan pembinaan di seluruh Indonesia.
Saat ini tercatat lebih dari 91.000 atlet telah terdata dalam sistem tersebut. Namun demikian, jumlah data pelatih yang telah terintegrasi masih sekitar 1.352 orang, sehingga masih diperlukan upaya bersama dari seluruh Pengprov untuk melengkapi dan memperbarui data pelatih, atlet, serta klub yang berada di wilayah masing-masing.
Optimalisasi data ini diharapkan dapat membangun bank data pembinaan prestasi daerah yang komprehensif dan terintegrasi secara nasional. Ke depan, data tersebut tidak hanya dapat menjadi arsip administrasi, tetapi juga menjadi dasar dalam penyusunan program pembinaan, pengambilan kebijakan, hingga pemantauan perkembangan atlet dan pelatih secara lebih terukur.
Dalam kesempatan ini juga dibahas secara mendalam mengenai program pengembangan sumber daya manusia (SDM) pelatih yang menjadi salah satu fokus pembinaan PP PBSI. PP PBSI tengah melakukan perbaikan tata kelola dan manajemen pelaksanaan penataran pelatih level I, II, dan III, yang merupakan program pembinaan kepelatihan nasional.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat jalur pengembangan pelatih Indonesia menuju standar internasional, termasuk kesempatan mengikuti penataran pelatih level I dari Badminton World Federation (BWF).
Salah satu topik yang menjadi diskusi hangat dalam pertemuan tersebut adalah munculnya berbagai masukan dari daerah terkait perlunya penyusunan Kurikulum Nasional Bulutangkis Indonesia. Kurikulum ini diharapkan dapat menjadi pedoman pembinaan dan pelatihan yang lebih terstruktur, sekaligus tetap menyesuaikan dengan karakter, kekuatan, dan gaya bermain khas atlet bulutangkis Indonesia.
Saat ini PP PBSI tengah dalam proses penyusunan modul penataran pelatih level I hingga level III sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelatih di seluruh Indonesia. Ke depan, modul tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi awal dalam penyusunan kurikulum nasional bulutangkis yang akan disusun secara kolaboratif bersama seluruh Pengprov PBSI.
Melalui forum sinkronisasi ini, PBSI berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara pusat dan daerah dalam mengembangkan sistem pembinaan bulutangkis yang lebih terstruktur, berbasis data, serta berorientasi pada peningkatan kualitas atlet dan pelatih di seluruh Indonesia.
Dengan koordinasi yang solid antara PP PBSI dan Pengprov, diharapkan proses pembinaan dari level daerah hingga nasional dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu melahirkan atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang berprestasi di tingkat dunia.


