Bertanding di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jateng, Denis kalah dua gim langsung 11-21, 17-21 dari Izza, lawan yang sebelumnya ia kalahkan di final Seleksi Nasional 2025 --hasil yang saat itu membuka jalan baginya untuk menembus pelatnas PBSI--. "Permainan hari ini berjalan tidak sesuai dengan yang saya harapkan," tuturnya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
"Hari ini saya membawa tantangan baru sebagai atlet pelatnas PBSI dan ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi saya," Denis, menambahkan.
Denis mengakui, pada gim pertama masih melakukan penyesuaian terhadap kondisi lapangan, sementara Izza tampil lebih agresif. Pada gim kedua, ia sempat mengejar ketertinggalan, tetapi Izza kembali mengubah pola permainan. "Evaluasi ke depannya, saya harus perbaiki lagi dari cara bermainnya, lalu dari pikiran serta mentalnya karena sekarang ini saya membawa nama pelatnas PBSI," katanya.
Sementara itu, kepada Djarum Badminton, Izza menyatakan, pada gim pertama ia mampu bermain lebih tenang dibanding pertemuan sebelumnya dan tidak terburu-buru, sehingga dapat menjaga permainan serta menghindari ketertinggalan.
Pada gim berikutnya, Izza menyebut pukulannya masih terlalu mudah dibaca, sehingga kerap diantisipasi oleh Denis, meski ia juga beberapa kali mampu mengantisipasi serangan yang diberikan lawannya.
Seusai memenangi poin terakhir, Izza melepaskan raketnya dan mengangkat kedua tangan sebagai bentuk selebrasi sekaligus pelampiasan revans atas kekalahannya pada awal Februari lalu. Saat itu, Izza harus mengakui keunggulan Denis di partai puncak melalui tiga gim 11-21, 21-15, 8-21, hasil yang sekaligus membuka jalan bagi Denis untuk menembus pelatnas PBSI. "Senang banget, apalagi tadi menang straight games, kan," katanya.
"Saya juga nggak nyangka juga bisa langsung ketemu Denis di babak pertama dan bisa menang," demikian Izza.



