Ia pun berharap HYDROPLUS Sirnas A Jateng 2026 yang berlangsung pada 4-9 Mei menjadi kesempatan bagi para atlet, khususnya dari Jateng, untuk menguji kemampuan dengan menghadapi pemain dari berbagai daerah lain. "HYDROPLUS Sirnas A Jawa Tengah 2026 ini menjadi wadah pertandingan yang diharapkan mampu melahirkan generasi penerus, yakni atlet-atlet potensial yang nantinya dapat berkembang ke level lebih tinggi," ujar Basri kepada Djarum Badminton, Selasa (5/5) di Kudus, Jateng.
Di sisi lain, Basri menilai ketersediaan 12 lapangan di GOR Djarum, Kudus, memungkinkan penyelenggaraan Sirnas A berjalan optimal dengan ratusan pertandingan digelar setiap harinya. Menurutnya, fasilitas tersebut tidak hanya layak untuk menggelar turnamen nasional, tetapi juga berpotensi menjadi venue kejuaraan internasional.
"Seluruh lapangan yang tersedia di sini sudah memenuhi standar Sirnas, termasuk jarak antarlapangan yang memadai," katanya.
Dengan banyaknya pertandingan yang digelar sepanjang HYDROPLUS Sirnas A Jateng 2026, Basri, menilai persaingan antarpemain akan berlangsung semakin ketat. Terlebih, para atlet juga memburu poin peringkat nasional, khususnya di kategori Taruna yang menjadi jalur perebutan tiket menuju pelatnas PBSI. "Sirnas A ini memang ada poin, ranking poinnya. Jadi setiap Sirkuit ini akan selalu bersaing dari satu penyelenggara provinsi ke provinsi yang lain," katanya.
"Dan sudah pasti bahwa ini akan menjadi satu uji coba apakah si atlet ini konsisten di dalam meraih juara, misalnya seperti itu. Kadang-kadang, kan, ada atlet yang di satu provinsi lain itu juara, di sini tidak, selang-seling berganti," Basri, menambahkan.
Ia juga menilai, keikutsertaan pemain pelatnas dalam HYDROPLUS Sirnas A Jateng 2026 ini menjadi tolok ukur penting bagi pembinaan bulu tangkis di Indonesia, sekaligus menjadi pembanding kemampuan antara atlet pelatnas dan pemain dari berbagai daerah.



