Pada laga tersebut, Divya harus berjuang tiga gim yang berakhir dengan skor 18-21, 21-16, 21-14 untuk memastikan satu tempat di partai puncak kompetisi berskala nasional ini. "Tadi waktu awal gim pertama saya agak lama penyesuaian dengan pertandingan. Kondisi lapangan dengan lampu yang terang juga membuat saya butuh waktu menyesuaikannya," tutur Divya kepada Djarum Badminton.
Bermodalkan percaya diri yang kuat, di gim berikutnya, atlet kelahiran Surabaya pada 4 April 2011 itu mampu bangkit dan menyamakan kedudukan dan memaksa pertandingan ditentukan melalui rubber game. "Saya cuman pede dan main ngotot terus," ungkapnya.
Pada gim penentuan, pertandingan berlangsung sengit hingga memasuki poin-poin akhir. Kedua pemain terlibat kejar-mengejar poin, tetapi Divya mampu menjaga ketenangan di momen krusial untuk mengunci kemenangan pada gim ketiga. "Ya saya cukup lega tadi di poin akhir, karena saya kalah pas terakhir main sama dia," katanya.
"Papa tadi info di interval yang penting pede aja di setiap poin. Karena sudah sedikit lagi bisa masuk final," Divya, menambahkan.
Ia pun menyampaikan apresiasi atas dukungan penonton yang terus menggema sepanjang pertandingan, dengan yel-yel yang mengiringi sejak poin pertama hingga akhir laga.
Di final, Sabtu (18/4), Divya bertemu dengan wakil PB AIC Kota Bekasi, Wa Ode Andita Julianti, yang juga bertarung tiga gim yang berakhir dengan skor 21-13, 15-21, 21-17 melawan Alvira Adelia Putri asal Jaya Raya Jakarta. "Untuk persiapapan pertandingan final besok, yang penting jaga makan, minum vitamin, dan tidur juga harus dijaga," pungkasnya.



