Keputusan memisahkan Leo/Bagas, menurut Antonius, didasarkan pada evaluasi performa sejak akhir 2024 hingga saat ini. "Kesempatan sudah cukup banyak kami berikan. Hasilnya memang ada yang baik, namun secara keseluruhan masih belum konsisten," ujarnya melalui siaran pers Humas PP PBSI pada Jumat (3/4) petang WIB.
Antonius menargetkan terbentuknya pasangan yang mampu tampil stabil dan kompetitif di level elite. Seiring dengan pulihnya Daniel Marthin dari cedera, ia memutuskan untuk kembali memasangkannya dengan Leo. "Keduanya pernah berpasangan sebelumnya, sehingga diharapkan tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dan kembali menemukan chemistry. Dari sisi teknis tidak ada kendala, sebelumnya lebih pada faktor non-teknis, yaitu komunikasi," jelasnya.
Ia pun berharap Leo/Daniel dapat menunjukkan performa yang lebih baik ke depannya.
Sementara itu, Bagastetap mendapatkan kesempatan dan akan dipasangkan dengan Putra. Kombinasi ini dinilai memiliki potensi yang saling melengkapi. "Putra memiliki keunggulan di permainan depan dan kemampuan playmaker, yang diharapkan bisa mendukung Bagas yang kuat di area belakang," jelas Antonius.
Sebagai tahap awal, kedua pasangan baru ini akan diuji dalam beberapa turnamen, yaitu di Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat perkembangan serta potensi jangka panjang dari masing-masing pasangan.
Menghadapi persaingan menuju kualifikasi Olimpiade atau "Race to Olympic", Antonius menegaskan pentingnya menambah kekuatan skuad ganda putra. Saat ini, Indonesia telah memiliki pasangan yang berada di level top 10 atau mendekati, seperti Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. "Tugas kami adalah menyiapkan pasangan pelapis yang juga mampu bersaing di papan atas. Kami berharap kombinasi seperti Rian/Rahmat, Leo/Daniel, Bagas/Putra, serta Devin/Fathir, dapat terus berkembang dan menembus level elite dunia," pungkasnya.


