Peluang dan Tantangan bagi Rachel/Febi

Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum (Djarum Badminton)
Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum (Djarum Badminton)
Internasional ‐ Created by EL

Jakarta | Usai menjuarai Australian Open 2025, ganda putri Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, berpeluang melanjutkan tren positif saat tampil pada Indonesia Masters 2026 dan Thailand Masters 2026. Namun, langkah mereka masing-masing terhenti di perempat final dan semifinal. Kini, pasangan peringkat ke-28 dunia itu dihadapkan pada tantangan untuk kembali meraih hasil maksimal saat menjalani tiga turnamen beruntun dalam rangkaian tur Eropa.

Berdasarkan informasi pada laman Federasi Bulu Tangkis Dunia, Rachel/Febi akan memulai tur Eropa dengan tampil pada All England 2026 di Utilita Arena Birmingham, Birmingham, Inggris, pada 3–8 Maret. Seusai turnamen tertua di dunia tersebut, mereka melanjutkan perjuangan pada Swiss Open 2026, 10–15 Maret, di St. Jakobshalle, Basel, Swiss.

Adapun, Orléans Masters 2026 yang berlangsung di Palais des Sports Orléans, Prancis, 17–22 Maret, menjadi turnamen penutup dalam rangkaian tur Eropa tersebut. "Pada umumnya persiapan kami sama, tetapi memang banyak hal yang mesti di-push," tanggap Febi terkait persiapan mereka jelang tiga turnamen di Eropa tersebut, saat ditemui di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, pada pertengahan pekan lalu.

Sementara itu, Rachel menyatakan salah satu target mereka dalam tiga turnamen tersebut adalah mengalahkan sejumlah pasangan elite dunia, yang diyakini akan menghadirkan persaingan ketat, terutama pada All England 2026. "Main di All England itu, kan, lawan-lawannya susah. Untuk menghadapi hari esoknya lagi, kita harus tambah lagi dan tambah lagi," tuturnya.

"Itu target kami di 2026 juga, mengalahkan pasangan-pasangan top seed dari banyak negara," Rachel, menambahkan.

Dari sejumlah turnamen yang telah mereka jalani, termasuk Badminton Asia Team Championships 2026, Febi menilai performa mereka sejauh ini tergolong cukup baik. Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah aspek yang perlu dibenahi agar penampilan mereka semakin konsisten di turnamen berikutnya. "Masih banyak yang harus dievaluasi, mungkin (bermain) bisa sabar lagi dan fokus lagi mainnya," katanya.

Meski demikian, Febi mengakui terdapat peningkatan signifikan dalam pola komunikasi mereka di lapangan, termasuk saat berinteraksi dengan pelatih. Tantangan terbesar dalam hal komunikasi justru mereka rasakan ketika berlaga di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Riuh rendah dukungan penonton pada Indonesia Masters 2026 dari bangku tribune menjadi atmosfer tersendiri yang menguji kekompakan dan efektivitas komunikasi mereka sepanjang laga.

"Kita sama-sama, semisal ketika kondisi saya nggak enak, dia yang ngasih tahu. Sebaliknya juga gitu, dan juga banyak bantuan dari pelatih," kata Febi.

"Di antara kita itu 'harus saling'. Di antara kita nggak ada yang mau lebih dominan. Jadi ketika yang satu lagi susah, kita harus siap bantu. Begitu pun sebaliknya," demikian Rachel.