Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, mengaku belum memahami secara rinci penerapan format baru yang digulirkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Meski demikian, ia menilai kebijakan turnamen berdurasi dua pekan menghadirkan dua sisi yang kontras, terutama jika dibandingkan dengan format sebelumnya yang hanya berlangsung selama satu pekan.
"Sejujurnya saya belum terlalu ngerti formatnya bakal jadi gimana. Cuma, ya, kemarin baca-baca gitu. Takes time sebenarnya 11 hari. Pasti lebih bosan sebenarnya, tapi ketika balik main lagi pasti lebih fit," tuturnya kepada wartawan, saat ditemui di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, belum lama ini.
"Ada plus-minus, saya rasa. Saya sebagai atlet sendiri harus bisa menyesuaikan apa yang sudah ditetapkan, jadi nggak ada pilihan lain selain maksimalin aja apapun kondisinya," Alwi, menambahkan.
Sementara itu, di Malaysia, penerapan format baru ini dinilai membuka peluang lebih luas bagi para pemain tunggal putra yang berada di 50 besar peringkat dunia. Laman berita New Straits Times mencatat, berdasarkan peringkat dunia, sektor tunggal putra negeri jiran memiliki tiga pemain di jajaran 48 besar, yaitu Leong Jun Hao (peringkat 27), Justin Hoh (39), dan Aidil Sholeh (46). Ketiganya berpeluang langsung tampil di babak utama turnamen level Super 1000 dengan penerapan sistem terbaru tersebut.
Lee Zii Jia, salah satu tunggal putra andalan Malaysia, saat ini menempati peringkat ke-64 dunia. Jika tren performanya terus menunjukkan peningkatan hingga kembali menembus 48 besar, ia berpeluang kembali bersaing untuk tampil di turnamen level Super 1000.
Indonesia, Malaysia, Inggris, dan China, menjadi negara tuan rumah turnamen level Super 1000 dalam beberapa tahun terakhir. Mulai edisi 2027, Denmark menyusul sebagai negara kelima yang akan menggelar turnamen dengan level tertinggi dalam rangkaian Tur Dunia BWF tersebut.


