Dalam partai puncak yang berlangsung pada Sabtu (9/6), kedua pemain bertarung tiga gim yang berujung kemenangan bagi Sausan dengan skor akhir 21-16, 10-21, 21-9. "Bisa sampai ke final, saya cuma menyiapkan dari segi pikiran, mental, dan pola permainan," tutur Sausan kepada Djarum Badminton.
Ia menilai, faktor mental sangat berpengaruh dalam pertandingan final tersebut. Meski sempat tertinggal cukup jauh, Sausan berusaha menenangkan diri dan fokus kembali ke permainan tanpa terlalu memikirkan hasil akhir pertandingan. "Yang penting per poinnya, bagaimana mendapatkan poinnya," katanya.
Sausan berpendapat, tidak ada perubahan yang terlalu signifikan dari pola permainan Jolin dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya. Menurutnya, perbedaan lebih terlihat dari sisi persiapan, sementara pertandingan final lebih banyak ditentukan oleh faktor mental kedua pemain. "Kesiapan mental itu sangat penting, apalagi dia sekarang sudah di pelatnas, kan. Jadi mentalnya sudah cukup teruji," tanggap atlet kelahiran Depok, Jawa Barat, pada 17 Oktober 2006 tersebut.
Sausan mengaku akan memanfaatkan jeda antarseri Sirnas A untuk mematangkan persiapan menghadapi turnamen berikutnya. Ia ingin mempertahankan aspek permainan yang sudah berjalan baik sekaligus memperbaiki sejumlah kekurangan agar tampil lebih maksimal pada pertandingan selanjutnya.
Sementara itu, Jolin menilai, gim pertama berlangsung cukup ketat. Namun, ia kehilangan fokus pada poin-poin akhir sehingga gagal mengamankan kemenangan. Meski dapat mengendalikan permainan pada gim kedua, Jolin mengaku kembali lengah di gim penentuan dan Sausan berhasil memanfaatkan momentum dengan baik. "Tadi saya tidak tegang, hanya saja terlalu berambisi buat juara," tanggapnya melalui keterangan pers Humas dan Media PP PBSI.
"Secara keunggulan, lawan tadi memiliki kontrol permainan yang lebih bagus. Ke depannya saya harus berlatih lebih keras lagi," demikian Jolin.


